Minggu, 13 Mei 2012

Kepemimpinan yang baik diawali berpakaian pramuka yang benar

Seragam Pramuka adalah suatu kostum yang dipakai seseorang sehingga dapat memberikan kesan bahwa pemakainya adalah seorang anggota Pramuka. Dibagian lain seragam pramuka dilengkapi pula dengan atribut berupa tanda-tanda yang melekat pada pakaian seragam pramuka. Sesuai dengan sistem pendidikan yang dilakukan di dalam Gerakan Pramuka, maka pakaian seragam inipun merupakan alat pendidikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi sikap dan tingkah laku Pramuka yang mengenakannya. Di Gerakan Pramuka telah diatur dengan Petunjuk Penyelengaraan tentang Seragam Pramuka. Seragam Pramuka memiliki nilai histories, dimana penggunaan warna coklat muda dan coklat tua mengingatkan para pramuka akan pakaian yang digunakan oleh pejuang-pejuang kita di masa revolusi yang lalu, dan para prajurit yang berada di garis pertempuran. Oleh karena itu penggunaan pakaian seragam ini dipakai untuk menanamkan jiwa patriotisme yang besar dikalangan Pramuka. Di samping itu pakaian seragam ini harus praktis, menarik, menyenangkan dan membanggakan bagi pemakainya. 
Pada akhir saat ini, kita masih seringkali menyaksikan para pemimpin pramuka, andalan, pembina bahkan peserta didik yang masih belum paham tentang seragam pramuka dan tanda-tanda satuan pada seragam, baik pemakaian dan penggunaannya. Adakalanya seragam Pramuka dengan tandanya dan bahkan ditambah-tambahi tanda lainnya dikenakan sesuai dengan selera dan kemauannya sendiri. Mestinya disaat memakai seragam Pramuka beserta atributnya dapat menjadikan seseorang lebih percaya diri, lebih mantap dalam menjalankan tugas dan kegiatan, serta dapat menjaga dan memberikan image yang baik bagi lingkungan dan dirinya sendiri. Sebaliknya ketika etika berseragam pramuka ini mulai diabaikan, maka akan nampak terkesan apa adanya, asal tempel dan asal ngetrend dll. Perilaku seperti hal tersebut di atas malah dapat mendiskreditkan nilai keberadaan sebuah seragam, sedangkan bagi pemakainya akan mendapatkan image yang kurang baik. 
Seorang Pemimpin di Gerakan Pramuka mestinya mengenal betul bagaimana pakaian seragam itu dikenakan, kapan dan dalam acara apa pakaian seragam dipergunakan, demikian pula tanda-tandanya. Seorang pemimpin bila perlu memiliki catatan-gambaran di saat menghadiri sebuah acara baik apakah itu formal maupun non formal. Bilamana hal-hal tersebut ternyata diketahui memang benar-benar belum dipahami oleh seorang pemimpin, maka sudah menjadi kewajiban bagi para Pembina,andalan kwartir, pelatih untuk dapat memberikan masukan, mengingatkan dan menyarankan bagaimana cara berpakaian pramuka yang baik tapi benar. Mengapa demikian ? Seorang pemimpin adalah tokoh sentral yang harus dijaga, baik dalam cara berpakaian dan berpenampilan. Pemimpin akan menjadi tokoh utama yang akan menjadi perhatian dan dilihat bagi khalayak ramai. Bila ini telah dijalankan, tanpa disadari apa yang dilakukan ini sudah menjadikan kita dapat melindungi kewibawaan dan image bagi seorang pemimpin. Jika segan untuk mengingatkan dan memberitahukan maka yang terjadi malah sebaliknya, cemooh dan pembiaran terhadap pemimpinnya melakukan sebuah kesalahan. 
Berpijak pada pengalaman penulis, seringkali kita temui pada acara-acara formal dimana tokoh sentral maupun pemimpin pramuka menggunakan seragam maupun atribut yang belum sesuai dengan tata cara berseragam pramuka yang benar. Sebelum tampil atau mengikuti acara tersebut, sebaiknya kita tata atributnya agar nampak rapi dan benar. Kekuranglengkapan seragam pramuka, biasanya sebatas atribut, bahkan dalam pengalaman ini, seorang kepala daerah pun dapat melakukan kekeliruan, tentunya bila perlu kita “ mengorbankan” apa yang kita miliki. Akhirnya kita lebih baik hadir dengan atribut “compang-camping” daripada mendampingi seorang pemimpin dengan berpenampilan buruk. 
Pemimipin Pramuka, ketika akan memulai sebuah kepemimpinan di lingkungan kwartir dipastikan akan belajar memahami dan menguasai kewajibannya, apa yang harus dilakukan termasuk bagaimana cara berpakaian yang benar, bila belum paham maka akan menanyakan kepada kepada staf / andalannya. Untuk itu bagi mereka yang notabene pembina pramuka/ pelatih sudah seharusnya memberikan masukan yang sebenar-benarnya. Hindari sikap, yang penting Asal Bapak-ibu Selera (ABS). Hal ini penting agar tidak terjadi kekeliruan dalam penggunaan seragam dan atributnya di kemudian hari. 
Di Gerakan Pramuka Seorang Pemimpin adalah teladan bagi yang lainnya. Karenanya kepemimpinan yang baik akan diawali dengan cara berpakaian seragam pramuka yang baik dan benar pula.

Rabu, 09 Mei 2012

Pramukaaa??????


Pramuka ? Hah.... ?
Pramuka sekarang sudah tidak mengasikkan lagi menurutku, apalagi kalo lihat pramuka di sekolah-sekolah, baik itu di SMP atau sederajatnya, SMA dan sederajatnya. Hampir semua siswa di sekolah-sekolah tersebut merasa tidak sreg dengan pramuka. Mereka mengikuti kegiatan pramuka hanya karena sebuah paksaan, dan ancaman dari pihak guru, senior atau lebih lengkapnya dari peraturan di sekolah tersebut yang mewajibkan setiap siswa untuk mengikuti pramuka. Atau bisa juga tidak semua siswa tapi hanya siswa dari kelas VII, VIII, X dan XI saja yang wajib mengikuti pramuka, karena dengan alasan kelas IX dan XII sebentar lagi akan menghadapi UN yang menakutkan itu. Boleh deh kalau tidak percaya coba diadakan penelitian tentang pramuka di sekolah-sekolah, apakah siswa-siswa yang setiap sekolah dengan kesadaran tinggi mau mengikuti kegiatan ini, pasti jawabanya adalah "hanya karena terpaksa dengan aturan sekolah". 


Mengapa pramuka tidak lagi menarik ? apa mungkin ini karena modernisasi zaman yang terus terjadi ? atau mungkin juga pramuka sudah tidak semenarik seperti pada masa generasi tua (guru, orang tua para siswa) dulu, atau juga mungkin kegiatan yang dilakukan di sekolah-sekolah tersebut tidak dapat memerbikan daya tarik sendiri kepada para siswa. Ya, semua kemungkinan itu bisa saja benar, tapi juga bisa saja salah, kita tinggal perlu membuktiknya lagi, tapi saya sudah membutkikan itu semua pada waktu mendapatkan kesempatan praktik pengalaman lapangan di sekolah. Dan kenyataanya adalah pramuka tidak lagi memberikan daya tarik bagi mereka. 
Menurutku, pramuka harus dapat berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Sekarang zaman sudah modern, semua serba menggunakan teknologi untuk mempermudah setiap pekerjaan, kenapa dalam pramuka masih saja dituntut menggunakan sandi-sandi yang membingungkan, morse dan semapore yang membuat mata kiyip-kiyip.Zaman sekarang semua orang sudah familiar dengan yang namanya HP, tengtop eh maaf maksudnya leptop, GPS, dan internet. Kenapa pramuka tidak mengajarkan bagaimana cara memaksimalkan semua itu, HP tidak hanya untuk SMS atau sekedar update status pesbuk ato tewiter saja tapi kenapa tidak dimaksimalkan untuk memberikan pesan yang berupa sandi-sandi, jadi pramuka tidak membosankan. Kita lihat pramuka hanya mengenakan seragam coklat-coklat tapi gak enak untuk dimakan.Kenapa tidak seragam itu kita beri variasi biar tidak membosankan dan monoton, kenapa baris berbaris tidak diberikan variasi dengan goyangan dangdut atu jogetan ala break dance agar lebih asik dalam berbaris. Ia, mungkin sebagian orang menganggap itu akan menghilangkan makna dan konsep dasar dari pramuka, tapi apakah salah ? saya pikir itu gak salah, kita gunakan itu untuk memancing anak-anak muda sekarang untuk kembali ke pramuka dan kalau memang pengen pramuka itu tetap ada di Indonesia.
Itu hanya reverensi dari saya, bila ada yang lebih memuaskan ya silahkan saja, toh yang penting gimana caranya agar pramuka di Indonesia kembali mendapatakan gairahnya lagi untuk mencapai klimaks.

Penyebutan yang salah Kaprah.!

 
 
 
 
Dalam lingkungan Gerakan Pramuka, banyak mengenal beberapa istilah atau singkatan singkatan yang kadangkala orang keliru dalam bahasan kata atau peyebutannya. Hal ini menjadi yang biasa karena kebiasaan yang dilafalkan dan “dianggapkan” dalam kehidupan sehari hari . Demikian pula dianggap memiliki kedekatan (dihubung-hubungkan) maknanya, yang belum tentu benar sesuai  arti yang sesungguhnya. Misalnya saja seperti di bawah ini.

1.  Di Lingkungan gugusdepan, seseorang yang setiap kali memberikan latihan kepramukaan berarti orang tersebut melatih pramuka. Karena melatih,  maka dengan gampang saja mereka itu  dikatakan Pelatih. Hal ini biasa terjadi karena orang tersebut dianggap sering melatih peserta didik.  Padahal yang disebut dengan Pelatih dalam gerakan pramuka adalah anggota pramuka dewasa yang telah menyelesaikan pendidikan minimal Kursus Pelatih Dasar  (KPD).
2.  Di lingkungan Penegak Pandega kita mengenal yang namanya Dewan Kerja Penegak dan Pandega. Ditingkat Nasional disebut dengan Dewan Kerja Nasional ( DKN ), kemudian Dewan Kerja Daerah ( DKD ), Dewan Kerja Cabang (DKC ) dan Dewan Kerja Ranting ( DKR ), namun masih sering  orang menyebut satuan ambalan dengan sebutan Dewan Kerja Ambalan (seolah disingkat DKA), yang benar adalah Dewan Ambalan saja tanpa kata “Kerja”.
3.  Di Lingkungan Gerakan Pramuka , dilihat dari sistem komunikasi dan hubungan pembina dengan peserta didik adalah “kakak dan adik”, ternyata untuk sebutan ini  tidak berlaku untuk golongan pramuka siaga, buktinya Yahnda dan Bunda memanggil mereka dengan sebutan “anak-anak siaga”  dan bukan “adik-adik siaga”
4.  Di Satuan Ambalan  kita menyebut pemimpin ambalan dengan nama jabatannya yaitu Pradana, adakalanya untuk memudahkan panggilan dan membedakan antara pemimpin ambalan putra dan pemimpin ambalan putri , mereka menyebut dengan panggilan Pradana untuk putra sedangkan Ambalan putri  dipanggil dengan nama Pradani. Sebenarnya Pemimpin ambalan tetap disebut pradana, yang membedakan hanyalah yang satu dipimpin putra dan yang satunya dipimpin putri.

Tentunya masih banyak istilah atau singkatan yang salah sebut, dan ada baiknya segera diluruskan agar tidak menjadi semakin “salah kaprah”. Masihkah ada lagi ?